Selasa, 21 September 2010 | 16:48 WIB
PU: Perlu Teknologi Baru untuk Jalan Martadinata
TEMPO Interaktif, Jakarta
-Kementerian Pekerjaan Umum menilai diperlukan teknologi baru untuk
mengatasi kerusakan di Jalan RE Martadinata, Tanjung Priok, Jakarta
Utara. Kementerian akan menggunakan teknologi pile slab atau teknologi tiang pancang di jalan rusak tersebut.
"Sekarang, kami harus memakai teknologi yang relatif lebih maju dengan
memancang sampai tanah keras dengan tiang pancang," kata Wakil Menteri
Pekerjaan umum, Hermanto Dardak, kepada Tempo, Selasa (21/9).
Hermanto mengatakan, pihaknya tidak bisa mengandalkan kedalaman jalan tersebut. "Jadi kami akan menggunakan kaki seribu (tiang pancang/pile slab) supaya memiliki kekuatan ujung yang kuat. Sehingga penurunan tanah bisa diperkecil, bahkan bisa tidak turun sama sekali," kata dia.
Menurut dia, konstruksi di sepanjang Jalan RE Martadinata dulunya telah memenuhi standar. Beban di jalan tersebut pun tidak sebesar dibandingkan saat ini. Tingkat abrasi air laut di jalan itu dulunya terbilang kecil. "Jadi memang sebelumnya belum dirancang dengan beban yang seperti sekarng ini. Belum juga dirancang dengan tiang yang masuk ke dalam," tuturnya.
Menurut dia, seperti jalan nasional lainnya, RE Martadinata dibangun dengan memakai tanah yang padat hingga kekuatan penuh, kemudian diberikan batu pecah untuk pondasi bawah dan batu pecah yang kualitasnya lebih baik lagi untuk pondasi atasnya. Setelah itu, jalan pun dilapisi oleh campuran aspal dua hingga tiga lapis. Namun, ternyata pembangunan jalan tersebut tidak cukup kuat untuk diterapkan di RE Martadinata. Sebab, terjadi proses konsolidasi penurunan tanah yang juga relatif tinggi.
Untuk plat beton yang berada di jalan itu, kata Hermanto, tidak ditemukan masalah. Beton yang berukuran 30 sentimeter tersebut sudah memenuhi standar untuk pembangunan jalan Martadinata pada saat pembangunannya. Selain itu, jalan yang dibangun di atas tanah urug itu pun juga tidak bermasalah karena kekuatan tanahnya memenuhi syarat. "Di jalan yang lain, kami juga menerapkan hal yang sama," kata dia.
Sebelumnya, Jalan RE Martadinata, Jakarta Utara ambles sepanjang 103 meter dan sedalam 7 meter. Pemerintah mengatakan kerugian yang timbul akibat jalan yang ambles sekitar Rp 2,8 miliar.
SUTJI DECILYA
Hermanto mengatakan, pihaknya tidak bisa mengandalkan kedalaman jalan tersebut. "Jadi kami akan menggunakan kaki seribu (tiang pancang/pile slab) supaya memiliki kekuatan ujung yang kuat. Sehingga penurunan tanah bisa diperkecil, bahkan bisa tidak turun sama sekali," kata dia.
Menurut dia, konstruksi di sepanjang Jalan RE Martadinata dulunya telah memenuhi standar. Beban di jalan tersebut pun tidak sebesar dibandingkan saat ini. Tingkat abrasi air laut di jalan itu dulunya terbilang kecil. "Jadi memang sebelumnya belum dirancang dengan beban yang seperti sekarng ini. Belum juga dirancang dengan tiang yang masuk ke dalam," tuturnya.
Menurut dia, seperti jalan nasional lainnya, RE Martadinata dibangun dengan memakai tanah yang padat hingga kekuatan penuh, kemudian diberikan batu pecah untuk pondasi bawah dan batu pecah yang kualitasnya lebih baik lagi untuk pondasi atasnya. Setelah itu, jalan pun dilapisi oleh campuran aspal dua hingga tiga lapis. Namun, ternyata pembangunan jalan tersebut tidak cukup kuat untuk diterapkan di RE Martadinata. Sebab, terjadi proses konsolidasi penurunan tanah yang juga relatif tinggi.
Untuk plat beton yang berada di jalan itu, kata Hermanto, tidak ditemukan masalah. Beton yang berukuran 30 sentimeter tersebut sudah memenuhi standar untuk pembangunan jalan Martadinata pada saat pembangunannya. Selain itu, jalan yang dibangun di atas tanah urug itu pun juga tidak bermasalah karena kekuatan tanahnya memenuhi syarat. "Di jalan yang lain, kami juga menerapkan hal yang sama," kata dia.
Sebelumnya, Jalan RE Martadinata, Jakarta Utara ambles sepanjang 103 meter dan sedalam 7 meter. Pemerintah mengatakan kerugian yang timbul akibat jalan yang ambles sekitar Rp 2,8 miliar.
SUTJI DECILYA

0 komentar :
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !